Pengaruh Berpikir Positif

  1. 1.     Berdasarkan penelitian

 

  1. Penelitian Goodhart

Berdasarkan penelitian Peneliltian Goodhart (1985) terhadap 173 mahasiswa menemukan bahwa berpikir positif mempunyai hubungan yang signifikan dengan kondisi psikologis yang positif, tetapi tidak berhubungan dengan adanya efek negatif dan simtom psikologis. Orang yang berpikir positif tinggi menunjukkan tingkat kondisi psikologis yang lebih positif, antara lain dilihat dari afek, harga diri, kepuasan umum dan kepuasan yang bersifat khusus. Berkaitan dengan stres, berpikir positif dianggap sebagai metode yang cukup baik untuk mengatasinya.

  1. Penelitian Chaerani

Penelitian Chaerani (1995) juga menemukan hasil yang sama. Penelitiannya terhadap 120 remaja di SMA 1 Cirebon melaporkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara berpikir positif dan harga diri dengan daya tahan menghadapi stres. Analisis data menunjukkan sumbangan berpikir positif terhadap daya tahan mengahadapi stres sebesar 15 %. Penelitian terhadap pria eksekutif menemukan bahwa eksekutif yang memandang stressor sebagai tantangan, sebagai peluang untuk tumbuh dan berkembang mempunyai kesehatan fisik yang lebih baik daripada eksekutif yang memandang stressor sebagai ancaman (Goodhart,1985).

  1. 2.     Berdasarkan Pendapat
    1. Cridder, dkk (1983

Mereka mengatakan bahwa dengan memusatkan perhatian pada aspek yang positif dari suatu keadaan atau situasi yang sedang dihadapi akan membantu individu untuk mengahadapi situasi yang mengancam atau menimbulkan stres sehingga dia mampu mereaksi segala peristiwa yang terjadi secara positif.

  1. Covey (1997)

Menurutnya, berpikir positif ketika tidak tahu tujuan hidup akan membuat seseorang menjadi semakin mudah sampai kepada tempat yang salah. Pendapat Covey tersebut berkaitan dengan tujuan hidup bagi seseorang. Seseorang harus sudah yakin dengan kebenaran arah yang dituju. Artinya, dalam melakukan sesuatu harus sudah yakin dengan kebenaran pendangan-pandangan yang diikuti, mempunyai tujuan dan alasan yang benar, tidak cukup hanya dengan berpikir positif. Kalau yang dilakukan salah dan berpikir positif terhadap kesalahan maka akan memperoleh hasil yang negatif dan mempercapat ke arah tujuan yang salah. Covey menegaskan pentingnya kebenaran sebagai sebuah pandangan terhadap sesuatu atau tujuan hidup yang paling dasar.

Ciri-Ciri Orang yang Berpikir Positif

  1. Melihat masalah sebagai tantangan

Orang yang berpikir positif tak pernah putus asa dalam menghadapi masalah. Mereka memandang masalah sebagai tantangan yang harus dijalani. Coba bandingkan orang yang berpikir positif dengan orang yang berpikir negatif. Orang yang berpikir negatif selalu mengangggap hidupnya paling sengsara di dunia.

  1. Menikmati hidup

Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati. Mereka lebih bisa menikmati hidup. Tapi, menerima keadaan bukan berarti mereka tak berusaha untuk mambuat hidupnya menjadi lebih baik.

  1. Terbuka untuk menerima saran dan pendapat

Orang yang berpikir positif bersikap terbuka dalam menerima saran dan pendapat dari orang-orang disekitarnya. Karena dengan begitu, selalu ada hal-hal baru yang akan membuat hidupnya menjadi lebih baik.

  1. Tidak membuat alasan, tapi langsung mengambil tindakan

Mereka jelas tidak membuat alasan dan banyak bicara namun mereka langsung mengambil suatu tindakan yang sudah dipikirkan secara matang.

  1. Menghilangkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas

Ketika terlintas pikiran negatif dalam kepalanya, sesegera mungkin orang yang berpikir positif akan menghilangkan pikiran negatif itu. Karena, Memelihara pikiran negatif lama-lama bisa menimbulkan masalah.

  1. Mensyukuri apa yang dimilikinya

Orang yang berpikir positif mensyukuri apa yang dimiliknya dan tidak bukannya berkeluh kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya.

  1. Tidak mendengarkan gosip

Sudah pasti, gosip berkawan baik dengan pikiran negatif. Karena itu, mendengarkan gosip adalah perilaku yang dijauhi orang yang berpikir positif.

  1. Peduli pada citra diri

Orang yang berpikir positif menghormati dirinya sendiri dengan selalu merawat diri, menjaga kesehatan dan penampilan agar tampak positif bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya.

  1. Menggunakan bahasa tubuh yang positif

Orang yang berpikir positif menggunakan bahasa tubuh yang positif. Diantaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap. Mereka juga berbicara dengan intonasi yang bersahabat dan antusias.

  1. Bersikap optimisme

Sewaktu mengalami kegagalan atau tekanan hidup. Seorang yang berpikiran positif tidak menganggap kegagalan itu bersifat permanen. Sebaliknya, ia menerima dan memeriksa masalahnya. Lalu, sejauh keadaan memungkinkan, ia bertindak untuk mengubah atau memperbaiki situasi.

Aspek-aspek Berpikir Positif

Albrecht menyatakan bahwa dalam berpikir positif terdapat aspek- aspek sebagai berikut:

  1. Harapan yang positif (positive expectation)

Harapan positif dapat dilakukan dengan cara melakukan sesuatu dengan lebih memusatkan perhatian pada kesuksesan, optimisme, pemecahan masalah dan menjauhkan diri dari perasaan takut akan kegagalan.

  1. Penyesuaian diri yang realistik (realistic adaptation)

Penyesuaian diri yang realistik adalah mengakui kenyataan dan segera berusaha menyesuaikan diri dari penyesalan, frustasi dan menyalahkan diri.

  1. Affirmasi diri (Self affirmative)

Affirmasi diri dilakukan dengan cara memusatkan perhatian pada kekuatan diri, melihat diri secara positif. Dalam hal ini seseorang menggantikan kritik pada diri sendiri dengan memfokuskan pada kekuatan diri sendiri.

  1. Pernyataan yang tidak menilai (non judgement talking)

Pernyataan yang tidak menilai adalah pernyataan yang lebih menggambarkan keadaan daripada menilai keadaan. Pernyataan ataupun penilaian ini dimaksudkan sebagai pengganti pada saat seseorang cenderung memberikan pernyataan atau penilaian yang negatif. Aspek ini akan sangat berperan dalam menghadapi keadaan yang cenderung negatif.

Definisi Berpikir Positif

Berpikir positif adalah cara berpikir secara logis yang memandang sesuatu dari segi positifnya baik terhadap dirinya sendiri, orang lain, maupun keadaan lingkungannya . Sehingga, ia tidak akan putus asa atas masalah yang dihadapinya dan mudah dalam mencari jalan keluarnya. Berpikir positif merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari tiga komponen, yaitu muatan pikiran, penggunaan pikiran, dan pengawasan pikiran.

  1. Muatan Pikiran

Berpikir positif merupakan usaha mengisi pikiran dengan berbagai hal yang positif atau muatan yang positif. Menurut Ubaedy, muatan positif untuk pikiran adalah berbagai bentuk pemikiran yang memiliki kriteria:

  1. Benar (tak melanggar nilai-nilai kebenaran),
  2. Baik ( bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan), dan
  3. Bermanfaat (menghasilkan sesuatu yang berguna).
  4. Penggunaan Pikiran

Memasukkan muatan positif pada ruang pikiran merupakan tindakan positif namun, tindakan tersebut berada pada tingkatan yang masih rendah jika muatan positif tersebut tidak diwujudkan dalam tindakan nyata. Oleh karena itu, isi muatan yang positif tersebut perlu diaktualisasikan ke dalam tindakan agar ada dampak yang ditimbulkan.

  1. Pengawasan Pikiran

Dimensi ketiga dari berpikir positif adalah pengawasan pikiran. Aktivitas ini mencakup usaha untuk mengetahui muatan apa saja yang dimasukkan ke ruang pikiran dan bagaimana pikiran bekerja. Jika diketahui terdapat hal-hal yang negatif ikut masuk ke ruang pikiran maka perlu dilakukan tindakan berupa mengeluarkan hal-hal yang negatif tersebut dengan menggantinya dengan yang positif. Demikian pula jika ternyata teridentifikasi bahwa pikiran bekerja tidak semestinya maka dilakukan usaha untuk memperbaiki kelemahan atau kesalahan tersebut.

Berpikir positif bukan merupakan tujuan melainkan suatu jalan untuk mencapai tujuan. Menjadikan berpikir positif sebagai tujuan memang membawa manfaat tetapi manfaat tersebut belumlah seberapa jika dibandingkan dengan manfaat yang didapat jika berpikir positif dijadikan sebagai suatu jalan. Bertolak belakang dengan optimisme, pandangan pesimisme akan menganggap kegagalan dari sisi yang buruk. Umumnya seorang pesimis sering kali menyalahkan diri sendiri atas kesengsaraannya. Ia menganggap bahwa kemalangan bersifat permanen dan hal itu terjadi karena sudah nasib, kebodohan, ketidakmampuan, atau kejelekannya. Akibatnya, ia pasrah dan tidak mau berupaya.

Manfaat dari Mendengarkan Musik Klasik

Mendengarkan musik klasik ternyata memiliki banyak manfaat baik itu bagikesehatan mental dan jiwa serta memiliki efek yang menenangkan. Selain itu mendengarkan musik klasik sejak usia sedini mungkin dapat membantu

perkembangan otak terutama daya nalar dan perkembangan bahasa. Berikut ini beberapa manfaat unik dari musik klasik:

  1. Pada tahun 2004 di London, Inggris, Polisi Transportasi Inggris memutar musik klasik di stasiun London dan di beberapa daerah pemukiman paling berbahaya. Setelah memperdengarkan musik klasik selama enam bulan:
  • Perampokan menurun sebesar 33 persen
  • Penyerangan staf menurun sebesar 25 persen
  • Vandalisme turun 37 persen

Hal ini bukanlahpertama kali digunakan untuk mencegah kejahatan. Pada tahun 2001, polisi di West Palm Beach, Florida memasang CD player dan speaker pada sebuah bangunan dalam lingkungan penuh dengan kejahatan. Setelah memainkan musik klasik terutama Mozart, Bach dan Beethoven – 24 jam sehari selama sekitar tiga bulan, penembakan, pencurian, gelandangan dan transaksi obat menurun.

 

  1. Pengacau bubar

Sebuah jaringan supermarket di Inggris juga menggunakan musik klasik untukmenghentikan kelompok-kelompok pemuda yang berkumpul di luar toko mereka. “Memang sebagian besar mudah mendengarkan musik yang kami mainkan seperti Bach, Tchaikovsky, Vivaldi dan Mozart. Ini adalah sebuah konsep baru, tetapi bekerja dengan sangat baik” kata manajer regional pencegahan kehilangan Steve Hogarth. Setelah memainkan musik klasik di bagian depan toko, laporan onar dan graffiti secara dramatis berkurang. “Fakta bahwa pemuda bergerombol di luar toko bukanlah sebuah kejahatan, namun persepsi di antara staf dan pelanggan tindakan tersebut dirasakan seperti mengintimidasi. Sepertinya menjadi ‘kurang keren’ sebagai tempat berkumpul jika ada musik klasik, “kata Hogarth.

 

  1. Meningkatnya Produksi Susu Sapi

Psychiater Universitas Inggris, menemukan bahwa memperdengarkan musik klasikringan kepada sapi perah bisa membantu meningkatkan produksi susu mereka.Namun, musik modern tertentu yang memekakkan telinga ternyata tidak membawaefek apapun. Doktor itu mengatakan, musik yang nyaman dan ringan tersebut bisameningkatkan produk susu barangkali adalah karena mereka bisa mengurangistress dari sapi perah.Sebagian peternak ayam sudah mengadopsi cara pemutaran musik untukpeningkatan produksi. Dahulu, juga ada bukti menunjukkan bahwa musik bisamengurai stress pada ayam.

 

  1. Meningktnya Pertumbuhan Tanaman

Musik klasik mempercepat tanaman berbunga, sudah diteliti di luar negeri sejak lama.Pernah dilakukan eksperimen sebagai berikut: Faktor yang barangkali bisamempengaruhi pertumbuhan tanaman seperti temperatur, kelembaban,pencahayaan dan lain-lainl di dalam lima buah kamar, diatur sesuai dengan kondisi yang saama, kemudian pada masing-masingnya ditempatkan tanaman yangmengandung kadar air dan tingkat kesuburan tanah yang sama?Satu-satunya yangberbeda ialah di dalam lima kamar tersebut diputar musik yang berlainan,masing-masing ialah: musik rap, musik pedesaan, musik klasik, musik pop dankamar terakir sama sekali tidak ada musik.

Hasil eksperimen menunjukkan, pertumbuhan tanaman di dalam kamar ber-musikklasik pertumbuhannya terbaik, yang terjelek ialah tanaman yang berada di dalamkamar dengan musik rap. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman ialah,ritme musik rap kacau balau, musiknya kekurangan garis berkesinambungan, sulit diciptakan keadaan stabil dan nyaman yang memungkinkan tanaman yang bisabernafas itu tumbuh; penampilan musik klasik ialah musik yang teratur, tertib danharmonis, setiap mahluk berjiwa dengan demikian dapat terimbas, tumbuhnya akanlebih bagus.

 

  1. Meningkatnya Penjualan Makanan Dan Minuman

Sebuah penelitian di universitas di Inggris menunjukkan, musik bisa mempengaruhikegemaran orang akan makanan, jikalau di ruang makan diputarkan musik klasik,pelanggan bisa membeli lebih banyak, jikalau diputarkan musik pop atau tanpamusik, maka konsumsi pelanggan jelas menjadi berkurang.Doktor psychiater memimpin regu penelitian, melakukan pengamatan selama 3minggu pada sebuah restoran di Inggris tengah. Mereka menemukan, irama musikyang halus dan mengalun indah dari Bach dan Mozart membuat pelanggan relamerogoh koceknya lebih dalam; akan tetapi apabila diputarkan si manis BritneySpears atau karya pop yang sedang ngetrend, maka pelanggan rata-rata mengeluarkan biaya lebih sedikit; jikalau tanpa musik, maka pengeluaran merekabahkan lebih sedikit lagi.Doktor menyatakan, musik klasik menitik-beratkan pada isi, membuat orangmerasakan sebersit keagungan maka rela membeli salad pembuka selera, cake dankopi dan lain-lain menu serba mahal.

 

Pengaruh Musik Klasik terhadap Perkembangan Otak Manusia

Pada tahun 1998, Don Campbell, seorang musisi sekaligus pendidik, bersama Dr. Alfred Tomatis yang psikolog, mengadakan penelitian untuk melihat efek positif dari beberapa jenis musik. Hasilnya dituangkan dalam buku mereka yang di Indonesia diterbitkan dengan judul Efek Mozart, Memanfaatkan Kekuatan Musik Untuk Mempertajam Pikiran, Meningkatkan Kreativitas dan Menyehatkan Tubuh. Banyak fakta menarik yang diungkap Campbell dan Tomatis. Diantaranya, adanya hubungan yang menarik antara musik dan kecerdasan manusia.Musik klasik terbukti dapat meningkatkan fungsi otak dan intelektual manusia secara optimal. Campbell kemudian mengambil contoh karya Mozart, Sonata in D major K 488 yang diyakininya mempunyai efek stimulasi yang paling baik bagi bayi.

Musik akan merangsang perkembangan sel-sel otak. perangsangan ini sangat penting karena masa tumbuh kembang otak yang paling pesat terjadi sejak awal kehamilan hingga bayi berusia tiga tahun. Namun, menurut dr. Jimmy Passat, ahli saraf dari FKUI-RSCM, dan Isye Widodo, S.Psi, koordinator Parent Education Program RSAB Harapan Kita, Jakarta, intervensi ini haruslah seimbang. Orang tua sebaiknya tidak hanya menstimulasi kemampuan otak kiri, tetapi juga otak kanannya.

Oleh para pakar, organ pengontrol pikiran, ucapan, dan emosi yaitu otak dibedakan atas dua belahan, kiri dan kanan, dengan fungsi berbeda. Otak kanan berkaitan dengan perkembangan artistik dan kreatif, perasaan, gaya bahasa, irama musik, imajinasi, lamunan, warna, pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi, serta pengembangan kepribadian. Sementara otak kiri merupakan tempat untuk melakukan fungsi akademik seperti baca-tulis-hitung, daya ingat (nama, waktu, dan peristiwa), logika, dan analisis.Oleh karena itu, bila stimulasi dilakukan secara seimbang, diharapkan anak yang dilahirkan kelak tidak cuma memiliki kemampuan akademik yang baik tetapi juga kreatif. Kalau dia pintar matematika, dia juga mampu berbahasa, menulis, dan mengarang dengan baik.

Penelitian lain juga pernah dilakukan. Frances Rauscher dan koleganya dari Universitas Wisconsin, AS melakukan penelitian hubungan antara kecerdasan dan musik. Para peneliti dari perguruan tinggi tersebut membagi dua kelompok tikus hamil. Kepada kelompok pertama diperdengarkan sejumlah sonata-sonata yang indah dari Mozart. Lalu, bayi-bayi tikus yang baru lahir masih tetap disuguhi musik yang sama sampai mereka berusia 2 bulan. Kelompok induk lainnya diperdengarkan musik minimalis Glass dan hal itu dilanjutkan sampai bayi-bayi tikus berusia 2 bulan. Rauscher dan kawan-kawannya kemudian menguji apakah “vitamin musik” yang diberikan sebagai makanan suplemen untuk dua kelompok tikus itu memberi dampak pada kecerdasan. Mereka menguji tikus-tikus bayi itu untuk berlomba di jaringan jalan yang ruwet, jalan yang simpang siur, untuk mendapatkan hadiah makanan. Hasil uji coba sangat mengesankan. Bayi-bayi tikus yang mendapatkan “vitamin musik klasik” dari sonata-sonata Mozart bekerja dengan sempurna dan sedikit sekali melakukan kesalahan dan mereka membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama untuk makanan sebagai hadiahnya. Sedangkan kelompok tikus yang mendapat vitamin musik minimalis dari Glass tampak tidak secerdas kelompok “klasik”. Demikian laporan para peneliti dalam jurnal ilmiah Neurological Research seperti yang dikutip oleh Reuters (5/8/98). Penelitian tersebut mengisyaratkan musik yang kompleks (musik klasik) telah meningkatkan daya belajar tikus terhadap ruang dan waktu (spatial-temporal). Dan hal ini juga berlaku untuk manusia. Para peneliti sampai pada kesimpulan, kemampuan spatial dapat ditemukan pada orang yang telah mendapat pelajaran matematika, musik dan ilmu pengetahuan. Penelitian diatas menguatkan hasil penelitian selama ini mengenai pengaruh musik klasik pada peningkatan kecerdasan. UNESCO Music Council malah telah menegaskan, pertama, musik klasik adalah alat pendidikan. Kedua, musik adalah alat untuk mempertajam rasa inteletual manusia (intellect Einfullung). Musik demikian biasanya mempunyai keseimbangan antara empat unsur musik, yakni melodi, harmoni, irama (rhythm) dan warna suara (timbre). Musik yang memenuhi persyaratan ini adalah musik klasik.

Periodisasi Musik klasik

Musik klasik sangat menarik, jika melihat genre, mungkin hanya disebut sebagai musik klasik, akan tetapi jika kita mau kaji lebih lanjut, musik klasik dibedakan menjadi beberapa zaman, dimana pada setiap zaman nya mempunyai style yang berbeda-beda. Dipengaruhi oleh gaya hidup dan teknologi yang ada (instrumen).

  1. Zaman Renaisans

Zaman Renaisans adalah musik klasik yang digubah pada Zaman Renaisans, sekitar tahun 1450 sampai dengan 1600. Penentuan batas awal zaman musik ini sulit dilakukan karena tidak terdapat perubahan besar dalam musik pada abad ke-15, selain juga bahwa musik dalam perkembangannya mendapatkan ciri-ciri “Renaisans” secara bertahap. Zaman ini berlangsung sesudah Zaman Pertengahan dan sebelum Zaman Barok. Beberapa komponis dari zaman ini adalah Giovanni Pierluigi da Palestrina, Orlande de Lassus, dan William Byrd.

  1. Zaman Baroque

Zaman Baroque adalah musik klasik barat yang digubah pada Zaman Baroque, kira-kira antara tahun 1600 dan 1750. Zaman ini berlangsung sesudah Zaman Renaisans dan sebelum Zaman Klasik. Sebenarnya, kata “Barok” itu berarti “mutiara yang tidak berbentuk wajar”, sangat pas dengan seni dan perancangan bangunan pada era ini; kemudian kata ini juga dipakai untuk jenis musik itu. Beberapa komponis Zaman Barok adalah Claudio Monteverdi, Henry Purcell, Johann Sebastian Bach, Jean-Philippe Rameau, George Frideric Handel, dan Antonio Vivaldi.

Pada zamam tersebut, piano belum ditemukan, dan komposisi dikarang untuk hapsicord. Partitur musik di zamam Barok ditandai dengan tidak adanya iringan atau polifoni. Karya JS Bach untuk hapsicord lazim mempunyai dua melodi atau lebih untuk tangan kanan dan tangan kiri.Musik Barok lazimnya hanya mencerminkan satu jenis emosi saja. Dibanding dengan Musik Klasik dan Romantik, musik Barok jarang mempunyai modulasi atau rubato. Untuk komposisi piano, pedal jarang digunakan saat memainkan musik Barok.

  1. Zaman Klasik

Zaman Klasik atau Periode Klasik dalam sejarah musik Barat berlangsung selama sebagian besar abad ke-18 dan abad ke-19. Walaupun istilah musik klasik biasanya digunakan untuk menyebut semua jenis musik dalam tradisi ini, istilah tersebut juga digunakan untuk menyebut musik dari zaman tertentu ini dalam tradisi tersebut. Zaman ini biasanya diberi batas antara tahun 1750 dan 1820, namun dengan batasan tersebut terdapat tumpang tindih dengan zaman sebelum dan sesudahnya, sama seperti pada semua batasan zaman musik yang lain.

Zaman klasik berada di antara Zaman Barok dan Zaman Romantik. Beberapa komponis zaman klasik adalah Joseph Haydn, Muzio Clementi, Johann Ladislaus Dussek, Andrea Luchesi, Antonio Salieri dan Carl Philipp Emanuel Bach, walaupun mungkin komponis yang paling terkenal dari zaman ini adalah Wolfgang Amadeus Mozart dan Ludwig van Beethoven.

  1. Zaman Romantik

Zaman Romantik dalam sejarah musik Barat berlangsung dari sekitar awal 1800-an sampai dengan dekade pertama abad ke-20. Zaman ini berlangsung sesudah Zaman Klasik dan sebelum Zaman Modern. Musik Zaman Romantik dikaitkan dengan Gerakan Romantik pada sastra, seni, dan filsafat, walaupun pembatasan zaman yang digunakan dalam musikologi sekarang sangat berbeda dari pembatasan zaman ini dalam seni yang lain (yaitu 1780-an sampai dengan 1840-an). Beberapa komponis dari zaman ini adalah Franz Schubert, Johann Strauss, Sr., Felix Mendelssohn, Frédéric Chopin, Robert Schumann, Richard Wagner, Giuseppe Verdi, Hector Berlioz, dan Johannes Brahms.

  1. Zaman Modern

Musik pada Zaman ini tidak mengakui adanay hokum-hukum dan peraturan-peraturan, karena kemajuan ilmu dan teknologi yang semakin pesat, misalnya penemuan dibidang teknik seperti Film, Radio, dan Televisi. Pada masa ini orang ingin mengungkapkan sesuatu dengan bebas.Komponis-komponis pada Zaman Modern :Claude Achille Debussy dari Prancis, Bella Bartok dari Honggaria, Maurice Ravel dari Prancis, Igor Fedorovinsky dari Rusia dan Edward Benyamin Britten dari Inggris.

Pengertian Musik klasik

Dalam pengertian aslinya, musik klasik adalah komposisi musik yang lahir dari budaya Eropa sekitar tahun 1750-1825. Biasanya musik klasik digolongkan melalui periodisasi tertentu, mulai dari periode klasik, diikuti oleh barok, rokoko, dan romantik. Pada era inilah nama-nama besar seperti Bach, Mozart, atau Haydn melahirkan karya-karyanya yang berupa sonata, simfoni, konserto solo, string kuartet, hingga opera. Namun pada kenyataannya, para komposer klasik sendiri tidak pernah menggolong-golongkan jenis komposisi yang mereka gubah. Penggolongan yang kita kenal sekarang dilakukan semata-mata untuk mempermudah, terutama untuk kepentingan akademis.

Ada pula pengertian lain dari musik klasik (walaupun yang ini jarang dipakai), yaitu semua musik dengan keindahan intelektual yang tinggi dari semua jaman, baik itu berupa simfoni Mozart, kantata Bach atau karya-karya abad 20. Istilah “keindahan intelektual” itu sendiri memiliki pengertian yang relatif bagi setiap orang. Dalam pengertian ini, musik dari era modern seperti Kitaro, Richard Clayderman, Yanni, atau bahkan Enya, juga bisa digolongkan sebagai musik klasik, tergantung dari sisi mana kita menikmatinya. Kalau kita lebih banyak menikmati elemen intelektual – dalam pengertian melodi, harmoni, atau aspek komposisi lainnya, maka jadilah ia musik klasik. Tapi kalau kita berpegang pada pengertian yang pertama tadi, maka jelas jenis musik ini tidak masuk dalam pengertian musik klasik. Untuk ini tersedia genre tersendiri, yaitu “new age”, atau terkadang juga digolongkan sebagai “art music”.